Selasa, 30 September 2008

BaHAsa HaTi

Apa yang menggerakan manusia? Jawabannya adalah hati. Di setiap tubuh manusia, ada segumpal daging yang mengendalikan segala gerak-gerik serta sikapnya. Bagi orang Islam, tentu sudah seringkali mendengar petuah agama bahwa jika hati baik, keseluruhan tingkah pola manusia akan baik pula.

Begitulah rumus kehidupan yang sudah sekian lama kita kenal. Begitulah Tuhan mengenugrahkan manusia memiliki hati untuk bisa menjadi manusia sebenarnya. Meskipun kita kita kita dapat merasakan setiap denyut dan nada kemanusiaan dalam kehidupan keseharian kita, diakui atau tidak kita sering melupakan harta yang kita miliki ini. Kita sering lupa bahwa kita mempunyai hati. Akibatnya, kitapun sering tak menyadari betapa dalam kehidupan sekitar kita, terlampau banyak hati-hati yang tersakiti, dan kitapun hanya berdiam diri. dalam bentuk apapun, ucapan yang menyakitkan, perilaku yang menyebalkan bahkan penindasan. Atau perilaku lain yang bisa menyesakkan sehingga dengan terpaksa mengatakan orang "orang itu tak punya hati".

Kalau sudah begini, derajat kemanusiaan patut diragukan. Secara fitrah hati itu mudah tersentuh ketika mata memandang ada ketidakadilan dan ketika ada peristiwa ada yang menyayat kemanusiaan. Kalau belumlah bisa, mulut bergerak untuk mengucapkan kata-kata lembut agar seseorang berbesar hati atas cobaan kemanusiaan yang sedang melanda. Inilah seninya hidup yang bukan melulu kita sesali, melainkan perlu strategi untuk menghadapinya. Begitu, begitu, dan begitulah...

Memang, kondisi hati setiap manusia berbed-beda. Dari perbedaan inilah muncul karakter yang berbeda-beda didalam setiap diri manusia. Ada yang mempunyai karakter lembut, kasar, mudah marah, murah senyum dan sebagainya. Semua itu datangnya dari hati. Maka, selalu memoles hati itu perlu. kita hiasi hati beragam pernak-pernik dan siraman penyejukan. Banyak caranya, dengan merenungkan hakikat penciptaan manusia, hakikat alam sekitar dan menyadari untuk apa ia ada dimuka bumi ini. Sejenak meluangkan waktu untuk berintropeksi diri itu perlu ditengah kesibukan kita mencari naskah, mencari ilmu atau mengejar mimpi-mimpi kita.

Perlukah ini? Ooo, sngat perlu. Lihatlah carut marutnya kehidupan ini. semua orang berjuanguntuk bisa mempertahankan hidup. Kalau tak ingat tentang keberadaan dirinya dimuka bumi ini dan fitrah hidupnya, bisa jadi ia akan berubah menjadi binatang. Bukan secara fisik, melainkan segala sifat, karakter, atau perilakunya. Memangsa sesama manusia. Mengerikan bukan? Maka, sekali lagi memoles hati itu perlu. Pada akhirnya kita akan hidup tenag dan damai di dunia ini dengan Bahasa Hati.

Ya, bahasa hati. Inilah bahasa manusia sesungguhnya, bahasa terdalam setiap manusia. Setiap kita bisa mengungkapkan dalam berbagai hal dengan ucapan dan tindakan.



:) Tanks DosenKu Smtr 1

0 Bacot diterima: